Kita Overthinking lalu Membuka Handphone—Ironisnya, Kita Makin Overthinking
Suatu malam di saat-saat akan beristirahat, kepala mendadak terasa bising. Kita akan mulai membandingkan pencapaian diri dengan teman-teman sebaya yang tampak jauh di depan, entah karier, kepemilikan aset, atau membangun keluarga sendiri, dan di saat itu jari kita mulai bergerak membuka handphone. Beberapa menit setelahnya, kebisingan itu makin menjadi-jadi. Jadi, apa yang salah?

“Membentengi” Diri Dengan Layar
Dorongan itu hampir selalu berawal dari friksi-friksi kecil di tengah sebuah rutinitas. Di meja kerja, saat rentetan tenggat waktu menemui jalan buntu, tangan mulai menggerakkan kursor tanpa arah, atau sesederhana teguran atasan yang tidak enak didengar telinga, bahkan ketika semua pekerjaan kita telah selesai dan masih ada waktu tersisa, tiba-tiba kita menjadi resah. Biasanya, saat-saat itu tangan kita justru secara otomatis meraba saku atau meja. Kita mengambil ponsel dan membukanya dengan dalih bahwa sekadar rehat lima menit dan mencari sedikit “inspirasi” akan mengendurkan saraf yang tegang.
Di waktu lain, suatu malam di saat-saat akan beristirahat dan kita mulai berbicara dengan diri sendiri, kepala mendadak terasa bising. Kita akan mulai membandingkan pencapaian diri dengan teman-teman sebaya yang tampak jauh di depan, entah karier, kepemilikan aset, atau membangun keluarga sendiri. Kita mulai membayangkan dan berandai apa kita bisa hingga di titik mereka? Dan alih-alih mencoba berdamai dengan rasa cemas tersebut, kita kembali ponsel untuk mencari distraksi cepat lewat video singkat atau membuka media sosial tertentu yang kita tahu akan ada hal lucu di sana untuk menenggelamkan suara-suara bising di kepala.
Dalam buku Indistractable (2019) yang ditulis oleh Nir Eyal, dijelaskan bahwa sebagian distraksi manusia terletak pada ketidakmampuan kita dalam mentoleransi pemicu internal yang tidak menyenangkan, seperti rasa bosan, kesepian, ketidakpastian, dan kecemasan [1]. Kita kemudian cenderung untuk langsung mengalihkan rasa tidak nyaman ini dengan ponsel yang hadir sebagai mekanisme pertahanan yang paling mudah dijangkau dan instan.
Jika kita melakukan refleksi, kapan kita paling sering membuka ponsel, kita akan menemukan sebagian besar saat-saat kita membuka ponsel adalah bukan karena ada telepon penting dari keluarga, melainkan karena kita sudah kehilangan kesabaran untuk tenang dengan emosi yang tidak menyenangkan. Keheningan selama beberapa detik saja terasa seperti beban yang menakutkan–ini juga terjadi saat dosen melarang kita menyalakan ponsel selama di kelas, sehingga jempol kita secara refleks terus bergerak mencari rangsangan baru di layar kaca.
Ironisnya, pelarian instan ini tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah awal yang membuat kita gelisah. Banjir informasi yang kita konsumsi justru menambah beban kerja otak yang sudah kelelahan sejak siang. Rasa tenang yang kita dapat dari ponsel hanya bertahan beberapa saat, sebelum akhirnya rasa bersalah dan cemas yang lebih pekat datang menyusul ketika kita menyadari bahwa waktu istirahat telah habis terbuang sia-sia.
Kita Haus di Tengah Laut–Lalu Meneguk Air Laut
Mungkin adalah analogi yang tepat. Kita seperti sedang terombang-ambing di tengah laut dan merasa haus, sejauh mata yang terlihat adalah air yang tampak melimpah dan sepertinya haus kita akan hilang begitu kita meneguknya. Tegukan pertama terasa membasahi bibir, tetapi hanya berselang detik, garam di dalamnya menyedot cairan dari sel-sel tubuh dan mempercepat dehidrasi.
Ponsel pun sama, ia menawarkan stimulus visual yang instan, namun stimulus itu yang diam-diam menyerap sisa-sisa mental kita.
Secara neurologis, setiap kali jempol kita menggeser layar, otak melepaskan sedikit dopamin sebagai respons antisipasi terhadap kejutan konten berikutnya. Otak memproses rasa senang dan rasa sakit pada neraca yang sama–ketika kita membanjiri diri dengan stimulasi digital yang tinggi untuk menutupi rasa cemas, otak akan melakukan kompensasi balik dengan menurunkan ambang toleransi rasa nyaman kita [2]. Akibatnya, alih-alih merasa rileks, saraf kita justru dipaksa kerja lebih keras dalam kondisi waspada terus-menerus.
Situasi bertambah buruk ketika linimasa yang kita konsumsi memvalidasi ketakutan kita sendiri. Seperti dijelaskan di awal bahwa sebagian besar dari kita membuka media sosial untuk lari dari rasa rendah diri, tetapi algoritma malah menyuguhkan fenomena yang mengakibatkan kita melakukan perbandingan sosial ke atas (upward social comparison). Otak kita menyerap konten seperti pencapaian, liburan mewah, grafik hijau dalam tempo beberapa menit saja. Beban psikologis tersebut kian menumpuk akibat banjir informasi yang datang.
Pikiran manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk memproses aliran pecahan informasi yang acak dan berkecepatan tinggi secara terus-menerus [3]. Dalam rentang lima menit kita menggulir linimasa, kita dipaksa berganti emosi mulai berita kebakaran hutan, indeks harga saham gabungan yang turun, meme, kucing, hero yang sedang meta, hingga tawaran diskon suatu produk kecantikan. Pecahan-pecahan fokus ini mengambil ruang hening yang seharusnya menjadi sarana pemulihan otak, malah menjadi kelelahan kognitif yang membuat kepala semakin berat.
Menjauhkan Ponsel
Beberapa bulan lalu, selepas saya pulang kerja, di kamar yang lampunya sudah dimatikan, hanya layar ponsel yang menyala di depan muka sembari terus menggulir linimasa. Kepala saya justru terasa semakin penuh tapi anehnya saya tidak merasa memikirkan apa pun, hanya seperti background-processing. Secara sengaja, saya melempar ponsel itu ke ujung kasur–tidak terlalu keras, hanya supaya ia berada di luar jangkauan tangan. Setelahnya, saya membuang napas panjang. Ada rasa lega yang langsung terasa saat itu juga, seolah beban di kepala mendadak berkurang meski masalah aslinya belum selesai.
Ward dalam Brain Drain (2017) menemukan fenomena, di mana keberadaan fisik ponsel di dekat kita–bahkan saat layarnya mati–tetap memakan kapasitas kerja otak [4]. Tanpa kita sadari, otak terus-menerus membuang energi untuk menahan diri agar tidak mengecek ponsel. Ketika gawai itu benar-benar dilempar menjauh dari pandangan dan jangkauan tangan, otak akhirnya berhenti menahan dorongan bawah sadar tersebut, sehingga beban mental kita langsung terasa turun.
Selain itu, menjauhkan ponsel di ruangan gelap memberi kesempatan bagi otak untuk berhenti memproses informasi baru. Menurut Kross (2021), obrolan batin atau pikiran bising di kepala baru bisa mereda jika kita memberi jarak dari stimulus luar [5]. Begitu layar berhenti menyala, mata dan saraf kita tidak lagi dipaksa mencerna kabar hidup orang lain atau video yang lewat cepat. Di awal-awal, kamar yang gelap dan hening mungkin terasa canggung, tetapi itulah yang akhirnya memberi ruang bagi otak untuk benar-benar beristirahat.
Literatur
[1] Eyal, N. and Li, J., 2019. Indistractable: How to Control Your Attention and Choose Your Life. Dallas: BenBella Books.
[2] Lembke, A., 2021. Dopamine Nation: Finding Balance in the Age of Indulgence. New York: Dutton.
[3] Newport, C., 2019. Digital Minimalism: Choosing a Focused Life in a Noisy World. New York: Portfolio/Penguin.
[4] Ward, A.F., Duke, K., Gneezy, A. and Bos, M.W., 2017. Brain drain: The mere presence of one’s own smartphone reduces available cognitive capacity. Journal of the Association for Consumer Research, 2(2), pp. 140–154.
[5] Kross, E., 2021. Chatter: The Voice in Our Head, Why It Matters, and How to Harness It. New York: Crown.
Catatan Lapangan oleh Budi Dharma Muhammad
Staff member (ADMIN) at Humanitas Perspective Magazine.
Diskusi Pembaca (0)
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama berbagi pandangan.
